DUNIA

"Penyadapan Australia, Bola Ada di Tangan SBY"

Apakah presiden akan menerima penjelasan kedua negara.

ddd
Senin, 4 November 2013, 06:38 Ita Lismawati F. Malau, Santi Dewi
Hikmahanto Juwana
Hikmahanto Juwana (www.cdi.anu.edu.au)

VIVAnews - Pakar hukum internasional dari Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana, mengatakan sikap akhir Pemerintah Indonesia terkait aksi spionase yang diduga dilakukan Badan Intelijen Amerika Serikat (AS) dan Australia berada di tangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Apakah Presiden akan menerima penjelasan yang diberikan oleh kedua negara itu?

Dihubungi VIVAnews, 3 November 2013 Hikmahanto memuji respons awal Pemerintah Indonesia dengan mengajukan protes kepada perwakilan kedua negara tersebut. "Indonesia tinggal menunggu tanggapan resmi dari kedua negara. Sekarang bola tinggal dipegang Presiden SBY apakah akan menerima penjelasan dari Pemerintah Australia dan AS atau menolaknya," papar Hikmahanto.

Apabila penjelasan itu diterima, lanjut Hikmahanto, isu penyadapan dianggap selesai sampai di situ. Namun, apabila penjelasan dirasakan tidak memuaskan, Indonesia bisa memanggil pulang dua besar yang bertugas di kedua negara itu. Indonesia juga bisa memperkecil jumlah diplomat yang bertugas di perwakilan kedua negara.

"Kalau mau marah, ya sekalian ikuti langkah yang diambil Pemerintah Jerman dan Brasil. Kedua Pemerintah negara itu kan telah mengungkapkan kemarahannya dengan mengusulkaan ke PBB draf resolusi terkait hak privasi," imbuh pria yang juga dianugerahi gelar Guru Besar dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini.

Apakah Indonesia akan menunjukkan reaksi yang sama seperti Pemerintah Jerman dan Brasil, menurut Hikmahanto, akan jadi perdebatan menarik. Pasalnya, Hikmahanto memperkirakan, keputusan Pemerintah akan dibayang-bayangi dengan ketergantungan Indonesia terhadap AS dan Australia.

"Dan bagaimana kedua negara memainkan posisi tawar mereka terhadap Indonesia," kata dia lagi.

Informasi soal aksi penyadapan Badan Intelijen AS (NSA) dan Australia (DSD) kali pertama diungkap oleh harian Australia, Sydney Morning Herald (SMH) pada pekan ini. Koran itu membuat masing-masing sebuah artikel yang menyebut keduanya membangun pos penyadapan di gedung Kedutaan di Jakarta dan Konsulat Jenderal.

Selain itu, Australia juga diduga memanfaatkan KTT Perubahan Iklim di Bali pada 2007 untuk menyadap Indonesia. Menurut laporan laman Guardian, operasi penyadapan DSD itu dibantu mitra sekutu yakni Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA).

Menurut Hikmahanto, penyadapan dilakukan karena kedua Pemerintah negara ingin mengumpulkan informasi secara ilegal agar dapat mengetahui terlebih dahulu dan mengantisipasi kebijakan yang akan dibuat oleh Pemerintah Indonesia. (umi)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
satya88
04/11/2013
Sby serba dilematis, ntar AS dan Ausie ngomong, elu khan nyadap koruptor pake alat penyadap gue.
Balas   • Laporkan
yulianto.prabowo.14
04/11/2013
Dimana KETEGASAN SBY ?
Balas   • Laporkan
blondot2012
04/11/2013
SBY tidak usah berpikir tentang politik yang santun...itu sudah basi. Tunjukan Indonesia berani mengambil sikap protes dan jangan takut terhadap ketergantungan thd mereka...Jadikan kasus ini sebagai bargaining position untuk kasus lain.
Balas   • Laporkan
abdul_syukur
04/11/2013
Kita pasti setuju dgn sikap Pemerintah RI dgn memprotes keras atas sikap kedua negara tsb dgn mengusulkaan ke PBB Draf resolusi terkait hak privasi.
Balas   • Laporkan
abdul_syukur
04/11/2013
Berhrp utk tdk berburuksangka pd pemerintah, siapapun pasti akan kecewa dan marah pd sikap AS dan Australia soal penyadapan. Kita pasti setuju dgn sikap Pemerintah RI dgn memprotes keras atas sikap kedua negara tsb dgn mengusulkaan ke PBB Draf resolusi te
Balas   • Laporkan
samasaja
04/11/2013
Sdng dipikirkan cara bagaimana bisa terlihat OK di dalam negeri dan tdk menolak program2 dari AS, sutralia, singapura. hehhehe. Sekali lagi pencitraan yg penting....
Balas   • Laporkan
mangunkromo
04/11/2013
saya jamin.... "saya prihatin.." cuma itu reaksinya... karena australia adalah "juragannya" sby
Balas   • Laporkan
amanaman
04/11/2013
Gua yakin SBY akan lempar tanggung jawab pakai tangan orang lain. Karena sifat SBY utk kasus2 krusial dia bingung kecuali kasus yg nyerempet partai demokrat. SBY ayo katakan Amerika 2000% salah, Australia 1000% salah. Jangan takut pada negara AS dan Aussy
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com