DUNIA

Warga Korut Disiksa Hanya karena Nonton Sinetron

Kata PBB, kekejaman di penjara Korut hampir mirip seperti kamp Nazi.
Rabu, 18 September 2013
Oleh : Denny Armandhanu
Kim Jong-un periksa pos militer Korea Utara

VIVAnews - Tahanan di penjara Korea Utara mengalami penyiksaan hebat, dibunuh atau mati kelaparan di penjara. Terkadang, semua ini mereka alami hanya karena masalah sepele, seperti nonton sinetron asing.

Hal ini disampaikan oleh Michael Kirby, ketua tim penyidik PBB untuk penjara Korea Utara, seperti dilansir Reuters, Selasa 17 September 2013. Kirby mengatakan, ada pelanggaran HAM yang parah di berbagai penjara di Korut.

Penyelidikan dilakukan dengan mendengarkan kesaksian para mantan tahanan di Korea Utara. Beberapa pengakuan juga disampaikan oleh para pembelot dari Korut yang kini tinggal di Seoul, Korea Selatan, atau Tokyo, Jepang.

Kesaksian mereka juga didukung pencitraan satelit yang menunjukkan sebuah kamp kerja paksa. Tim PBB tidak bisa menyambangi langsung penjara Korut karena tidak diberi izin.

"Situasi di Korea Utara tidak persis sama dengan Nazi. Tapi gambaran yang muncul seperti saat tentara sekutu menemukan kamp penjara pada akhir Perang Dunia II, di negara-negara yang dijajah Nazi," kata mantan hakim di Australia ini.

Nonton Sinetron dan Beragama

Salah seorang saksi mengatakan bahwa dia "dipaksa mengangkut banyak mayat tahanan yang mati kelaparan, memasukkan mereka dalam tungku dan membakarnya, lalu abu dan sisa-sisa tubuhnya disebarkan di ladang-ladang sayur di dekat penjara."

Seorang saksi lainnya mengaku telah berada di penjara itu sejak lahir. Sedari kecil, ujarnya, dia hidup dengan tikus dan kadal. Dia menyaksikan sendiri ibu dan saudaranya dieksekusi.

Saksi lainnya menyaksikan peristiwa yang mengenaskan. Dia melihat, seorang tahanan wanita dipaksa untuk menenggelamkan bayinya sendiri dalam ember.

Mereka ditahan dan disiksa kebanyakan hanya karena masalah sepele. "Kami mendengar dari mereka yang disisa dan ditahan. Mereka diperlakukan seperti hanya karena menonton sinetron asing dan memeluk agama," kata Kirby.

Bahkan tidak jarang, satu keluarga dipenjara bersama, padahal yang melakukan kesalahan hanya satu orang. Kirby mengatakan, praktik ini dilakukan untuk menghukum satu generasi di bawah kebijakan "dosa karena hubungan".

Kirby juga mendengarkan kesaksian dari keluarga Yokota di Jepang. Putri mereka, Megumi Yokota, 13, hilang dalam perjalanan ke sekolah di Jepang tahun 1977. Dia adalah satu dari 13 orang yang diculik rezim Kim Jong-il kala itu.

Penculikan ini diakui sendiri oleh Kim tahun 2002. Dia mengatakan telah menculik warga Jepang antara tahun 1970an hingga 1980an untuk dilatih sebagai mata-mata. Dari 13 orang yang diculik, delapan di antaranya tewas, termasuk Megumi.

Korut Membantah

Diplomat Korut untuk PBB Kim Yong Ho membantah laporan tersebut dengan mengatakan bahwa ini adalah rencana politik Uni Eropa dan Jepang, bekerja sama dengan Amerika Serikat, untuk menggulingkan rezim Kim Jong-un.

"Kami akan terus menentang setiap upaya mengubah dan menekan rezim dengan alasan perlindungan HAM," kata dia. Dalam hal ini, Korut didukung oleh China, Belarus dan Suriah.

Diperkirakan ada sekitar 100.000 orang yang ditahan di Korut. Laporan PBB ini tidak memuat sanksi apapun terhadap negara komunis itu karena Korut bukanlah anggota Mahkamah Kriminal Internasional.

Namun, Dewan Keamanan bisa memaksa mahkamah di Hague itu untuk menyelidiki pelanggaran bagi negara non-anggota. (umi)

TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found