DUNIA

Unjuk Rasa Besar-besaran di Brasil, Satu Orang Tewas

Puluhan ribu massa menentang kenaikan tarif angkutan umum.
Jum'at, 21 Juni 2013
Oleh : Dwifantya Aquina , Santi Dewi
Aksi unjuk rasa di Brasil ricuh saat massa bentrok dengan aparat.
VIVAnews - Seorang pengunjuk rasa dilaporkan tewas dalam demonstrasi besar-besaran di Brasil. Korban tewas diketahui bernama Marcos Delefrate, 18 tahun.

Menurut laman Telegraph, Jumat 21 Juni 2013, korban meninggal karena ditabrak oleh seorang pria yang mengendarai mobil Jeep. Pria tersebut bermaksud membubarkan pengunjuk rasa yang berkumpul di Riberao Preto, di Kota Sao Paulo.

Sementara korban lain yang ikut terluka akibat ditabrak segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Di daerah itu diperkirakan total pengunjuk rasa mencapai 20 ribu orang. Demonstrasi semakin meluas di hampir seluruh Brasil.

Jumlah pengunjuk rasa yang awalnya mencapai ratusan ribu, kini meningkat menjadi satu juta orang. Mereka berdemonstrasi di 100 kota, tumpah ke jalan sambil menyerukan keluhan kepada pemerintah yang kerap mempraktikkan korupsi dan memberikan pelayanan publik yang buruk.

Akibat memburuknya situasi di dalam negeri, Presiden Brasil, Dilma Rousseff, terpaksa membatalkan kunjungannya ke Jepang pekan depan. Ia dilaporkan mengadakan pertemuan darurat dengan seluruh anggota kabinet pada Jumat ini.

Selain korban tewas, unjuk rasa ini juga mengakibatkan 12 orang terluka. Aksi unjuk rasa besar-besaran di Brasil bermula dari penentangan kenaikan tarif angkutan umum sebesar 20 sen.

Di pekan kedua mereka berunjuk rasa, tuntutan mereka meluas termasuk tingginya tingkat pajak, inflasi, korupsi dan buruknya pelayanan publik mulai dari RS, sekolah, jalan dan kekuatan polisi.

Para demonstran menuduh pemerintah lebih sibuk memfokuskan perhatian pada kegiatan Piala Dunia 2014 dan Olimpiade Musim Panas 2016. Bahkan menurut para demonstran, dana sebesar US$26 miliar atau Rp258 triliun tidak patut dikeluarkan pemerintah.

Menurut mereka itu hanya membuang-buang uang rakyat. Unjuk rasa kemudian berakhir ricuh, saat para demonstran mulai meninggalkan balai kota, tiba-tiba polisi bersikap represif menghadapi mereka. Polisi tiba-tiba menembakkan gas air mata dan peluru karet untuk membubarkan massa.

"Saya berada dekat balai kota saat polisi mulai menembakkan gas air mata di waktu bersamaan. Padahal aksi unjuk rasa itu berlangsung damai," ujar salah satu pengunjuk rasa, Fabiano Roots

Para pengunjuk rasa terpaksa berlari ke seberang jalan, karena mereka tiba-tiba dikeliling polisi bersenjata yang mengendarai mobil dan sepeda motor.

"Jelas sekali, ada sikap diktator dalam menangani unjuk rasa ini dan polisi lah yang lebih dulu mulai memprovokasi," ujar Roots.

Pengunjuk rasa dilaporkan juga menyasar gedung Kementerian Luar Negeri. Sebanyak 80 demonstran disebut polisi membawa bahan peledak.

Namun mereka terlanjur dibubarkan polisi. Sebanyak 30 orang terluka setelah baku hantam dengan polisi karena mereka memaksa masuk ke dalam gedung Kemenlu.

Kerusuhan dalam aksi unjuk rasa itu juga mengakibatkan seorang reporter televisi O Globo, Pedro Vedova, terluka. Ia dilaporkan terkena peluru karet polisi saat para demonstran bertengkar di depan Universitas Campinas di utara kota Sao Paulo.

Polisi ikut menahan lima orang yang berusaha mengambil untung dari situasi ini ketika merampok supermarket. Sementara fasilitas umum seperti bank, toko dan restoran mengalami kerusakan parah. (adi)
TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found