DUNIA

Survei: Partai Islam Jeblok, Demokrat Rontok 2014

Apa yang menyebabkan perolehan partai Islam turun. Korupsi hantam PD.
Minggu, 14 Oktober 2012
Oleh : Eko Huda S, Dedy Priatmojo, Iwan Kurniawan
PKS mendaftar ke KPU

VIVAnews - Pamor partai politik berbasis Islam diprediksi semakin suram dalam pemilu 2014. Jajak pendapat Lingkaran Survei Indonesia(LSI) Network menemukan bahwa jika pemilihan umum digelar saat ini, maka tidak ada parpol Islam yang mendapat suara lebih dari 5 persen. Sebaliknya, partai nasionalis akan meraup suara antara 5 hingga 21 persen.

Hasil survei itu dilansir di Jakarta Minggu 14 Oktober 2012. Partai nasionalis yang diprediksi berkibar adalah Partai Golkar 21%, PDI-P 17,2%, Partai Demokrat 14%, Partai Gerindra 5,2%, dan Partai NasDem 5%. Sebaliknya, parpol Islam, yaitu PKS, PPP, PAN, dan PKB, diprediksi tenggelam. Perolehan suara mereka di bawah lima persen.

"Ini merupakan pertama kalinya partai Islam tidak masuk lima besar," kata peneliti LSI Network Adjie Alfaraby dalam pemaparan hasil survei "Makin Suramnya Partai dan Capres Islam di Pemilu 2014." (Baca Partai Islam Suram di 2014)

Survei LSI ini digelar 1 hingga 8 Oktober 2012 dengan 1.200 responden dari seluruh Indonesia. Metode yang digunakan multistage sampling dan margin of error 2,9.

Semenjak dulu, kata Adjie, suara parpol Islam memang cenderung menurun. Pada pemilu pertama tahun 1955 perolehan suara Partai Islam sebanyak 43,7%. Pada Pemilu ahun 1999 jumlah suara partai Islam merosot jadi 36,8%, lalu sempat menguat pada pemilu 2004 dengan 38,1%. Pada pemilu 2009 perolehan seluruh partai Islam anjlok jadi 23,1%. Dan jika pemilu diadakan pada 2012, maka suara seluruh partai Islam turun menjadi 21,1%.

Adjie menuturkan bahwa jebloknya suara partai Islam berkaitan dengan dukungan tokoh yang juga turun signifikan. Popularitas ketua parpol Islam yang juga menjadi menteri dalam kabinet Susilo Bambang Yudhoyono, seperti Hatta Rajasa (PAN), Muhaimin Iskandar (PKB), dan Suryadharma Ali (PPP) masih di bawah 60 persen. Sedangkan popularitas tokoh nasional seperti Aburizal Bakrie, Megawati Soekarno Putri, dan Prabowo Subianto berkibar di atas 60 persen.

Nasib suram juga akan dialami calon presiden yang mungkin diusung parpol Islam. Hatta Rajasa misalnya, hanya dipilih 3,2% responden, Suryadharma Ali 2,1%, LuthfiHasan Ishaaq (PKS) 0,8%, dan Muhaimin Iskandar 0,3%. "Jika ditotal tidak sampai 10 persen," kata Adjie.

Suara mayoritas pemilih jatuh ke tokoh-tokoh dari partai nasionalis yang rata-rata mendapat dukungan di atas 15%. Peringkat pertama ditempati  Megawati yang mendapat suara sebesar 20,1%, diikuti oleh Prabowo Subianto 19,3%, dan Aburizal Bakrie 18,2%.

Empat faktor

LSI mencatat bahwa ada empat faktor yang memicu suramnya parpol Islam dan capres yang diusung pada pemilu 2014. Faktor pertama adalah makin kentalnya fenomena "Islam Yes partai Islam No". Gagasan ini pertama kali disampaikan oleh Nurcholis Majid pada dekade 1960-1970 sebagai gerakan moral. "Namun saat ini telah menjadi fakta politik. Sebesar 67,8 persen pemilih Muslim memilih partai nasionalis," kata Adjie.

Islam di Indonesia lebih bersifat kultural dan kesolehan individu. Namun tidak terwujud dalam aspirasi politik. Mayoritas Islam di Indonesia tidak ingin partai dengan aroma Islam menjadi mayoritas. Banyak masyarakat secara individu taat beragama, namun tidak merefleksikan sudut pandang kepartaian.

Faktor kedua adalah pendanaan. Survei menunjukkan, 85,2% publik menilai parpol Islam kurang modal dibandingkan partai nasionalis. Sehingga partai nasionalis lebih siap mendanai aktifitas dan image building partai. Contohnya, Gerindra dan Nasdem dapat menjelma menjadi lima partai besar versi LSI Network berkat iklan-iklan di media televisi nasional.

Faktor ketiga adalah munculnya tindakan anarki yang mengatasnamakan Islam. Tindakan kelompok tertentu itu diprediksi memunculkan "kecemasan kolektif" masyarakat. Selain itu, masyarakat juga cemas akan pemberlakuan syariat Islam jika partai Islam berkuasa. "Sekitar 46,1 persen publik percaya merosotnya partai Islam disebabkan anarkisme yang mengatasnamakan Islam di Indonesia," kata Adjie.

Faktor terakhir adalah semakin diakomodasinya kepentingan umat Muslim oleh parpol nasionalis, terlepas dari motif bersifat substantif ataupun simbolik. PDI-P misalnya, membentuk Baitul Muslimin. Demokrat punya Majelis Dzikir SBY. Alat itu signifikan menarik simpati umat Islam. Survei menunjukkan 57,8% publik percaya bawah partai nasionalis mengakomodir kepentingan masyarakat Muslim.

Partai Islam menjawab

Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan (PPP), M Romahurmuziy, menegaskan bahwa nasib parpol Islam tidak akan suram. Dia yakin parpol Islam akan tetap mendapat tempat di panggung politik Indonesia. "Survei itu temporer, mengukur saat survei dilakukan. Jadi tidak valid kalau menyimpulkan apa yang akan terjadi pada dua tahun yang akan datang (pemilu 2014)," kata Romahurmuziy kepada VIVAnews, Minggu 14 Oktober 2012.

Menurut Romy--sapaan Romahurmuziy--tak semua faktor yang dipaparkan LSI itu memperngaruhi parpol Islam. "Yang benar dari faktor itu hanya dua, masalah pemimpin dan logistik," katanya.

Pemimpin parpol Islam,memang kalah tenar dibanding tokoh dari partai nasionalis. Sebab, para pemimpin partai nasionalis itu telah lebih dahulu berkiprah di pentas politik nasional. "Jam terbang pemimpin nasionalis jauh lebih tinggi dari figur yang dimiliki parpol Islam," katanya.

Terkait pendanaan, Romy mengakui memang partai-partai nasionalis memiliki sumber yang banyak. Dia juga menyebut partai NasDem yang baru muncul, juga punya sumber dana yang besar. "Mengapa partai NasDem dalam survei berada di atas parpol Islam? karena banyak duitnya. Sudah banyak duit, mereka punya stasiun televisi yang setiap saat bisa memasang iklan dengan gratis," katanya.

Namun, menurut dia, ada yang luput dari survei LSI itu. Survei itu tidak memasukkan faktor struktur dan manuver tokoh pada parpol Islam. Padahal, kata dia, kedua faktor ini sangat dominan dalam parpol Islam. "Faktor itu yang belum direkam dan memang saat ini belum digerakkan oleh parpol Islam," ujarnya.

Dia mengatakan, faktor struktur dan manuver tokoh ini sesungguhnya sangat efektif bagi parpol Islam. Kedua faktor itu biasanya digerakkan menjelang hari pemilihan. "Jadi struktur ini yang belum bekerja dan tidak dikerjakan hari ini. Karena biaya mengggerakkan struktur lebih tinggi," kata dia.

Sementara itu, Juru Bicara PKS, Mardani, mengaku tidak risau dengan hasil survei ini. Bagi PKS, survei tidak akan mempengaruhi masa depan sebuah partai politik. "Masa depan partai Islam ditentukan oleh kinerjanya sendiri," kata Mardani kepada VIVAnews.

Menurut Mardani, masyarakat sudah semakin cerdas. Jika partai Islam mampu bertindak solutif, memberi ciri Islam, melayani masyarakat, dan memerangi korupsi, pasti akan meraih simpati masyarakat. Dia mengaku bersyukur jika survei itu menemukan partai-partai nasionalis telah mengakomodir kepentingan umat Muslim. "Bisa bersaing secara positif, yang untung voters," katanya.

Namun, Mardani tidak sepakat dengan prediksi suramnya parpol Islam karena masalah pendanaan. Menurut dia, prestasi sebuah partai tidak harus diukur dengan logistik yang melimpah. "Dana, tidak terbukti sebagai faktor utama," katanya.

Dia juga mengkritik dimasukkannya faktor kekerasan untuk mengukur popularitas parpol Islam. Menurut dia, kekerasan yang mengatas namakan Islam selama ini tidak ada kaitannya dengan partai. "Tindakan anarki tidak ada kaitan dengan partai Islam," tutur Mardani.

Nasib Demokrat

Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) juga melansir hasil survei terbarunya. Dalam survei itu SMRC menemukan besarnya potensi swing voter atau pemilih yang berpindah pilihan partai pada pemilu 2014. Kecenderungan ini telah terlihat sejak pemilu 1999, 2004 dan 2009. Tren itu diprediksi akan berlanjut pada pemilu 2014.

Pada pemilu 2004 suara PDIP turun menjadi 15,5%. Partai Demokrat yang baru ikut dalam pemilu 2004 langsung mendapat 7%. Suara Partai Keadilan Sejahtera meningkat dari 1% menjadi sekitar 7%.

Pada Pemilu tahun 2009 perolehan Golkar dan sejumlah partai besar menurun, yang naik justru Demokrat. Suara Golkar turun sekitar 8%, PKB turun sekitar 5,5%, PDIP turun 4,5%. Sedangkan Demokrat naik sebebsar 14% dan tampil sebagai pemenang Pemilu.

"Tiga kali Pemilu menghasilkan tiga partai berbeda sebagai pemenang suara terbanyak. Ini juga mengindikasikan bagaimana besarnya swing voter dari satu pemilu ke pemilu berikutnya," kata CEO SMRC, Grace Natalia saat memaparkan 'Kecenderungan swing voter pemilih partai menjelang Pemilu 2014' di Jakarta Minggu 14 Oktober 2012.

Survei ini dilakukan pada 5 hingga 16 September 2012. Responden sebanyak 1.219, merupakan warga negara Indonesia yang telah memiliki hak pilih. Margin of error survei ini sebesar ±3% pada tingkat kepercayaan 95%. Survei spontan ini menggunakan metode wawancara langsung dengan responden.

Dalam simulasi pertanyaan terbuka, sebanyak 14% responden memilih Partai Golkar. 9% responden memilih PDI Perjuangan, dan 8% responden memilih Partai Demokrat. Sedangkan, NasDem memimpin papan tengah dengan perolehan 4% suara responden. Gerindra, PKS, PPP, dan PKB masing-masing hanya 3%. PAN 2% dan Hanura 0,5%. Sementara partai-partai lain yang jumlahnya sangat banyak--termasuk partainya Tommy Soeharto, Nasrep--memperoleh suara dengan total hanya 0,5%.

Partai yang diprediksi kehilangan banyak pemilih pada 2014 adalah Partai Demokrat. Sekitar 65% suara partai pemenang dalam pemilu 2009 ini diprediksi akan pindah ke partai lainnya. Demokrat diprediksi tak akan menjadi pemenang lagi pada pemilu 2014. "Partai ini merosot 12%, hampir dua pertiganya dari hasil pemilu 2009 sebesar 21%. Golkar punya modal dasar paling baik karena angka spontannya rata-rata kurang lebih sama dengan hasil Pemilu 2009," ujar Grace.

Penyebab utama larinya suara Demokrat adalah skandal korupsi yang menimpa sejumlah kader utamanya. Kepindahan pemilih Demokrat, kata Grace, tidak disebabkan kemarahan pemilih atas kondisi ekonomi nasional atau kinerja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang diusungnya. Sebab, persepsi atas kondisi ekonomi nasional dan kinerja Presiden secara umum positif.

Saat ini masih banyak pemilih yang belum menentukan pilihananya untuk pemilu mendatang. "Masih ada sekitar 50% pemilih yang mengambang, belum menentukan pilihan secara spontan. Yang mengambang ini kemungkinan pemilih pemula. Jumlah ini sangat besar dan dapat merombak peta kekuatan partai pada 2014 nanti," ujar Grace.

Partai Demokrat tidak mempersoalkan hasil survei SMRC ini. Wakil Ketua Umum Demokrat, Max Sopacua, mengaku bisa menerima hasil survei itu. "Kami tidak membantah jika suara Demokrat akan pindah ke partai lain," kata Max kepada VIVAnews.

Hasil survei itu, lanjutnya, merupakan masukan yang bermanfaat untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang ada di dalam Partai Demokrat. "Saya anggap itu sebagai trigger untuk melihat ke dalam, bagaimana mengakomodasi persoalan yang ada," katanya.

Namun, kata Max, Demokrat tidak gusar dengan hasil buruk sebagaimana ditunjukkan berbagai survei itu. Sebab, hasil survei akan berubah seiring apa yang akan dilakukan sebuah partai. Bagi Demokrat, tidak ada kata terlambat untuk merebut kembali hati rakyat pada pemilu 2014 mendatang. "Kami masih punya waktu 1,5 tahun untuk membenahi itu," tutur dia.

Max juga tidak menampik bahwa kasus korupsi yang menjerat sejumlah kader memiliki andil besar terhadap merosotnya citra Demokrat. Fenomena itu, kata dia, memang terjadi. Demokrat, harus menerima dampak buruk perbuatan para kader itu. "Imbasnya tidak bisa dihalang-halangi. Survei ini terus terang saya terima sebagai masukan untuk kami, bahwa inilah yang harus diperbaiki," katanya.

TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found