DUNIA

Horor, Duduk 10 Jam Sebelah Mayat di Pesawat

Kaki jenazah menjulur, hanya beberapa inchi dari wanita Swedia ini.

ddd
Selasa, 26 Juni 2012, 00:40 Elin Yunita Kristanti, Indrani Putri
Kenya Airways berikan diskon setengah harga pada penumpang yang duduk di sebelah mayat
Kenya Airways berikan diskon setengah harga pada penumpang yang duduk di sebelah mayat (ventures-africa.com)

VIVAnews - Karakter orang yang duduk di sebelah Anda di pesawat bisa mempengaruhi suasana hati selama perjalanan. Salah-salah, bisa terperangkap dalam pembicaraan membosankan, atau dipaksa terus mengobrol saat mata makin berat dan tubuh yang lelah menuntut istirahat. 

Namun, apa yang dialami perempuan Swedia, Lena Petterson saat menumpang maskapai Kenya Airways jelas horor. Ia terpaksa duduk di sebelah jenazah selama penerbangan panjang 10 jam dari Amsterdam, Belanda menyeberangi samudera ke Tanzania, di benua Afrika .

Kala itu Petterson tak bisa berkutik. Seperti dimuat Daily Mail, awalnya jurnalis Sveriges Radio itu duduk di seberang seorang pria bertubuh tinggi besar yang masih bernyawa. Teman yang bepergian bersamanya menyadari ada yang tak beres dengan pria yang  diperkirakan berusia 30 tahunan itu.

Setelah pesawat lepas landas dari Bandara Schiphol, Amsterdam, kecurigaan itu terbukti. "Pria itu berkeringat banyak dan berkali-kali kejang," kata Pettersson. Tidak lama kemudian, kru  pesawat meminta bantuan pada penumpang yang punya  pengalaman medis untuk memberi pertolongan pada pria  yang sakit itu.

Namun tindakan medis yang diberikan tak berhasil. Meskipun sudah dibantu dengan pijat jantung oleh salah seorang penumpang, pria itu tetap tidak tertolong. Kru pesawat segera memindahkan orang-orang yang duduk di sebelah mayat, namun sayangnya Pettersson dan kawannya kurang beruntung. Tak ada lagi tempat di pesawat untuk mereka.

Kru kabin yang bingung harus berbuat apa kemudian membaringkan mayat di tiga kursi yang telah kosong,  sambil menutupinya dengan selimut. Sial bagi Pettersson, tiga kursi itu ternyata tak cukup untuk pria berperawakan tinggi itu. Kaki jenazah menjulur hingga lorong pesawat, hanya beberapa inchi darinya.

"Saya jelas terganggu. Tapi saya bukan orang yang cerewet dan langsung mengomel tentang hal ini," kata dia.

Sekembalinya dari liburan, Pettersson yang masih terbayang-bayang dengan peristiwa itu lalu menulis surat elektronik berisi keluhan pada Kenya Airways. Dia menuntut kompensasi.

Beberapa bulan kemudian, pihak maskapai merespon. Selain permintaan maaf, dia menerima ganti rugi uang sebesar separuh harga tiketnya sekitar US$700. "Saya puas. Saya rasa ini cukup pantas," kata Pettersson. (umi)


© VIVA.co.id   |   Share :  
Rating
KOMENTAR
Amws
01/07/2012
Dikira disengaja, kaga penting banget ini berita
Balas   • Laporkan
malaysia
26/06/2012
ah orang kafir mah otaknya uang aja gak tau orang susah ttp aja di manfaatin
Balas   • Laporkan
kampretpretpret | 01/07/2012 | Laporkan
lbh hbt lg, org2 bkn kafir korup pengadaan kitab suci...he3x
bahasyir | 30/06/2012 | Laporkan
wah..., ada malaikat ngasih komen nih. Orang bukan kafir yang di otaknya gak mikir uang, Salut deh, sampeyan pasti masuk surga karena nggak punya dosa. Hebat...hebat...hebat...
abdeeas
26/06/2012
Ya.. ini orang pintar memanfaatkan celah untuk mendapatkan uang...
Balas   • Laporkan
kapolsek
26/06/2012
Yg nga manusiawi yg minta ganti rugi. Dlm hal ini keadaan mendadak & sdh tdk ada tempat lagi mau taruh jenazah. Coba yg meninggal keluarganya....
Balas   • Laporkan
tuak79 | 26/06/2012 | Laporkan
ya kalo ga nyaman jangan di pendem aja, bisa jerawatan ntar ... kan diberitanya juga waktu kejadian dia ga cerewet ada mayat di deketnya,apa itu kurang manusiawi ...
yusufmarco
26/06/2012
wah untung2 rugi tuh hahaha
Balas   • Laporkan
nutsbreaker | 27/06/2012 | Laporkan
kebalik mas,,, Rugi untung2


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com
Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Lowongan
Copyright © 2013 PT. VIVA Media Baru