DUNIA

Kapan Rupiah Kembali Menguat?

Sebelum masalah Eropa selesai, dolar akan cenderung menguat dan mata uang lain melemah.
Selasa, 5 Juni 2012
Oleh : Nur Farida Ahniar, Nina Rahayu
Rupiah

VIVAnews - Rupiah menunjukkan tren pelemahan di kisaran lebih Rp9.400 per dolar Amerika Serikat beberapa hari terakhir. Pelemahan rupiah dan juga mata uang regional lainnya masih dipengaruhi sentimen negatif perkembangan krisis di Eropa.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi Sarwono menjelaskan, krisis di Eropa tak hanya disebabkan permasalahan di Yunani, namun juga mengakibatkan negara peripheral Eropa seperti Spanyol mulai menunjukkan perkembangan buruk. Hal itu mengakibatkan investor seperti di bursa saham dan obligasi merelokasi portofolio investasinya ke mata uang safe haven yaitu dolar Amerika.

Lalu, seberapa lama pelemahan itu akan berlangsung? Hartadi menjawab, hal itu tergantung pada penyelesaian krisis. "Bergantung pada penyelesaian masalah di Eropa," ujar Hartadi kepada VIVAnews di Jakarta, Selasa 5 Juni 2012.

Menurut dia, sebelum masalah Eropa selesai, dolar AS akan cenderung menguat dan mata uang lainnya melemah. BI akan terus menjaga pasar valas dengan menambah likuiditas, sehingga tidak terjadi kekurangan yang mengakibatkan pelemahan rupiah yang berlebihan.

Jika menilik pada kurs tengah BI, pada Senin, 4 Juni 2012, rupiah ditutup melemah di level Rp9.463 per dolar AS. Melemah 130 poin dibanding penutupan Jumat sebesar Rp9,333 per dolar AS. Sementara itu, asumsi rupiah yang digunakan pada APBN-Perubahan 2012 sebesar Rp9.000 per dolar AS.

Sebelumnya, Gubernur BI Darmin Nasution menjelaskan, saat ini cadangan devisa Indonesia cukup besar, bahkan melebihi standardisasi internasional. Jumlah cadangan devisa saat ini sama dengan 6,1-7,7 bulan impor. "Menurut standar dunia, setara 3-4 bulan impor itu sudah aman," ujarnya. (art)

TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found