DUNIA

4-6-1989: Tragedi Tiananmen

Ratusan warga di China tewas oleh tembakan tentara yang memberantas aksi demonstrasi

ddd
Senin, 4 Juni 2012, 06:12 Renne R.A Kawilarang
Polisi China di Tiananmen
Polisi China di Tiananmen (REUTERS/David Gray)

VIVAnews - Pada 23 tahun yang lalu, ratusan warga sipil di China tewas oleh tembakan tentara dalam suatu operasi pemberantasan berdarah atas aksi demonstrasi pro-demokrasi di Lapangan Tiananmen, Beijing. Aksi protes yang digalang aktivis mahasiswa berlangsung sejak 15 April 1989 dan baru berakhir pada 4 Juni 1989 setelah pemerintah mengambil langkah keras untuk mengatasinya. 

Laman stasiun televisi BBC mengungkapkan bahwa konvoi tank pasukan China melaju ke jantung Ibukota Beijing di malam hari tanggal 3 Juni 1989. Selain itu, dari berbagai arah, pasukan pemerintah bergerak ke Tiananmen sambil menembaki para demonstran yang tak bersenjata.

Selama tujuh pekan sebelumnya, para pemrotes, yang sebagian besar adalah mahasiswa, menduduki Tiananmen. Mereka menolak bubar sebelum tuntutan terpenuhi, yaitu meminta pemerintah melakukan reformasi demokratik di China. 

Aksi protes dimulai saat para mahasiswa menggelar acara perkabungan atas mantan pemimpin Partai Komunis, Hu Yaobang, yang wafat seminggu sebelumnya.

Kian hari, jumlah massa pemrotes terus bertambah. Mereka pun lantas mengungkapkan kemarahan atas wabah korupsi di tubuh birokrasi sekaligus menuntut reformasi dan demokratisasi. 

Bagi pemerintah China, aksi mereka itu dianggap sebagai "kerusuhan sosial" sehingga harus ditindak tegas. Maka, pemerintah, mengerahkan tentara untuk membubarkan konsentrasi massa sekaligus menangkapi para aktivis dan mahasiswa yang berperan menyelenggarakkan demonstrasi. 

Namun pemberantasan itu berjalan brutal sehingga menimbulkan banyak korban tewas. Sebagian masyarakat internasional, terutama dari negara-negara Barat, mengecam tindakan pemerintah China itu.

 


© VIVA.co.id   |   Share :  
Rating
KOMENTAR
dulkamid
06/06/2012
Terinspirasi oleh Gorby dengan "Wind Of Change" Glasnost dan Perestroikanya. Ternyata Wind Of Change cuma berhembus sampe Jertim begitu menuju Cina ketanggor Tembok Besar lalu mati angin. Beruntung Cina dikangkangi Deng Xiao Ping, kalau si gila Mao... hii
Balas   • Laporkan
bloody3lf
04/06/2012
beda dgn yg disini dimn apar4tnya lembek pk pist0l air. contoh tuh RRC, berondong aj demonstrannya pk peluru tajam. jgn kyk amrik yg takut HAM. pengen ditakuti ikut RRC aj jgn kyk amrik..
Balas   • Laporkan
neosack
04/06/2012
bagusan gitu, tindak tegas para demonstrasi anarkis. nanti nya ngelunjak sama pemerintah. bisa2 jadi militan tuhh demontran
Balas   • Laporkan
arya_tedja
04/06/2012
Buktinya sekarang china menjadi negara yang paling ditakuti AS, beda dengan Indonesia... Dulu militer Indonesia termasuk yang ditakuti oleh dunia, tapi sekarang? Militer Indonesia paling ditakuti oleh Rakyat Indonesia wkwkwkwkwkwk
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com
Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Lowongan
Copyright © 2013 PT. VIVA Media Baru