DUNIA

Bidan Robin Tolak Komersialisasi Persalinan

Di kliniknya, siapa pun anda, akan dilayani dengan penuh rasa hormat. Tentu saja gratis.
Senin, 12 Desember 2011
Oleh : Denny Armandhanu, Indrani Putri
Bidan Robin Lim

VIVAnews - Dedikasi Robin Lim bagi kesehatan ibu dan anak di Indonesia, khususnya di Bali dan Aceh, tidak diragukan lagi. Tidak pernah memungut bayaran kepada pasien, bidan asal Amerika itu berusaha melawan arus komersialisasi persalinan.

Kepada CNN, pekan lalu, bidan yang akrab disapa Ibu Robin ini mengisahkan kenyataan pahit yang terjadi di kebanyakan rumah persalinan di Indonesia. Dia mengatakan, banyak pasangan miskin terpaksa meninggalkan atau bahkan merelakan buah hati mereka di rumah sakit karena tidak mampu membayar ongkos bersalin.

"Rumah sakit menahan bayi sampai pembayaran lunas itu biasa di Indonesia," kata Ibu Robin, pemenang CNN 2011 Hero of The Year yang diumumkan di Los Angeles Minggu malam waktu setempat.

Dia mencontohkan salah satu rumah sakit di Bali yang melakukan praktik ini. Robin mengatakan, selama bayi ditahan, ibunya hanya dapat mengunjungi dua kali sehari untuk menyusui dan mengganti popok. Jika mendapatkan uang, maka mereka dapat membawa pulang bayi. Jika tidak, lanjutnya, mereka harus merelakan bayi itu untuk diadopsi.

Akibat hal ini, tidak jarang para ibu dari keluarga miskin memilih melahirkan tanpa bantuan medis, beberapa ke dukun beranak. Tindakan yang tidak sesuai prosedur inilah yang meningkatkan kematian bayi dan ibu. "Situasinya sangat buruk, bayi tidak dirawat, persalinan dikomersilkan, dan ibu meninggal pendarahan, hanya karena mereka tidak mampu membayar," kata Robin.

Untuk menjawab kegelisahan hatinya, dia mendirikan klinik bersalin yang dinamakannya Yayasan Bumi Sehat di Aceh dan di Ubud, Bali. Di tempat ini, Lim bersama dengan para stafnya melayani perawatan sebelum bersalin, kelahiran, dan bantuan medis bagi siapapun yang membutuhkan. Semua ini dilakukannya tanpa memungut biaya alias gratis.

"Rock star sampai PSK diperlakukan bak VIP di Bumi Sehat, dengan kebaikan dan penuh rasa hormat," kata Robin. Biaya operasional didapatnya dari donasi para dermawan. 

Robin mengatakan, seorang keluarga datang setiap tahun saat panen mangga, mereka memberikan mangga kepada setiap staf sebagai bentuk terima kasih. Tidak hanya mengandalkan stafnya, Robin siap turun tangan jika diperlukan. "Jika mereka ingin saya hadir, saya akan ditelepon dan datang," kata Robin.

Selain membangun klinik, yayasan Bumi Sehat yang didirikan Lim dan suaminya Will Hemmerle juga aktif dalam upaya penyelamatan korban bencana. Tercatat, dia pernah mengirimkan bidan, dokter, perawat, asisten rumah tangga dan juru masak ke Aceh dan Yogyakarta saat bencana terjadi.

Bidan Bukan Cita-citanya

Menjadi bidan, apalagi di Indonesia, sebenarnya bukan cita-cita wanita kelahiran Arizona, Amerika Serikat, ini. Dia mengatakan kematian sahabatnya, salah satu bidan yang membantu persalinan putranya dan adiknya yang meninggal karena komplikasi kehamilan menjadi titik baliknya.

"Saya putuskan untuk tidak berlama-lama marah. Saya memutuskan untuk menjadi bagian dari solusi . Jika saya mampu setidaknya mencegah kematian seorang ibu dan anak, saya akan melakukannya. Saya akan mendedikasikan hidup saya untuk itu," kata ibu delapan anak ini.

Asia menjadi satu-satunya tujuan Ibu Robin, karena ia merasa bahagia di benua ini. Semasa kecilnya, ia pernah tinggal di Filipina ketika ayahnya yang seorang tentara bertugas disana.

Ibu Robin dan suaminya Will menjual rumah mereka di Hawaii, lalu pindah ke Bali untuk membangun kembali hidup mereka. Pada 2003, didirikanlah Yayasan Bumi Sehat dengan bantuan dari masyarakat Bali dan donasi dari teman-temannya di belahan dunia lain.

"Apakah dunia punya tanggung jawab terhadap semua wanita hamil, semua bayi? Ya. Setiap bayi, setiap orang dewasa, memerlukan lingkungan yang bersih, sehat dan penuh kasih sayang. Itu dasarnya, itu hak asasi," jelas Robin. (umi)

TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found