DUNIA

Mesir Kembali Berdarah, 23 Tewas

Ini berawal dari protes atas penyerangan suatu gereja, yang dianggap tidak berizin
Senin, 10 Oktober 2011
Oleh : Renne R.A Kawilarang
Kerusuhan di Kairo, Mesir, 9 Oktober 2011

VIVAnews - Sedikitnya 23 orang tewas dan puluhan lain terluka setelah terjadi bentrokan berdarah antara aparat keamanan Mesir dan para demonstran umat Kristen Koptik di Ibukota Kairo, Minggu malam waktu setempat. Pihak keamanan selanjutnya menerapkan jam malam di Kairo, khususnya di Lapangan Tahrir dan pusat kota.

Menurut stasiun berita Al Jazerra, bentrokan tidak saja terjadi di Kairo, namun juga di kota terbesar kedua di Mesir, Alexandria. Pihak berwenang pada Minggu menggelar rapat darurat untuk membahas kerusuhan itu.

Koresponden Al Jazeera mengungkapkan pada awalnya demonstrasi berjalan damai. Para demonstran saat itu memprotes lambatnya tindakan aparat keamanan atas penyerangan suatu gereja Kristen Koptik pada 30 September lalu di Mesir bagian selatan.

Menurut stasiun berita Al Arabiya, gereja yang diserang itu terletak di kota Merinab, provinsi Aswan. Menurut kelompok penyerang gereja, tempat ibadah itu dianggap tidak berizin. Gubernur Aswan, Mustafa al-Seyyed, juga mengatakan bahwa umat Kristen Koptik membangun gedung gereja itu tanpa izin terlebih dahulu dari pihak berwenang.   

Namun, saat demonstrasi atas penyerangan gereja berlangsung, para pemrotes tiba-tiba diserang kawanan preman. Tidak lama kemudian, polisi militer pun ikut menyerang para pemrotes.

"Kami berunjuk rasa secara damai," kata Talaat Youssef, pemuda berusia 23 tahun, yang dikutip kantor berita Reuters. "Saat kami berjalan menuju gedung stasiun televisi, militer mulai menembaki kami dengan peluru tajam," kata Youssef. "Padahal mereka seharusnya melindungi kami," lanjut dia.

Situasi akhirnya jadi tak terkendali saat para pemrotes memberi perlawanan. Menurut pihak keamanan, para demonstran lalu membakar dua mobil lapis baja, enam mobil pribadi dan sebuah bus.

Selain menerapkan jam malam, pemerintah meminta semua pihak agar menahan diri. Perdana Menteri Mesir, Essam Sharaf, menyatakan telah menghubungi pihak keamanan dan pengurus gereja untuk membantu mengendalikan situasi.

"Satu-satunya pihak yang diuntungkan dari kekerasan ini adalah para musuh Revolusi Januari dan juga musuh rakyat Mesir, baik itu umat Muslim maupun Kristen," kata Sharaf dalam pesan lewat akun pribadi di laman Facebook. Ini merupakan kerusuhan berdarah terbesar di Mesir sejak rezim Hosni Mubarak digulingkan pada Februari lalu.

Kalangan pengamat menilai bahwa kerusuhan ini pertanda pemerintah lalai mengantisipasi bentrokan antarumat. "Absennya penegakan hukum menjadi penyebab. Kebebasan berekspresi merupakan basis bagi masyarakat yang demokratis dan penegakan hukum," kata pengamay politik Amr Hashim Rabei kepada Al Arabiya.

"Benturan seperti ini padahal sudah tidak lagi terjadi selama berbulan-bulan. Pimpinan umat Koptik harus meminta para pemrotes agar tahan diri dan menempuh jalur hukum," lanjut Rabei.

Konflik sektarian yang melibatkan umat Koptik sering terjadi di Mesir. Sebagai pihak minoritas - yang hanya sepuluh persen dari 80 juta rakyat Mesir, umat Koptik berulangkali menjadi sasaran penyerangan. Mereka pun berulangkali menuduh pihak berwenang menerapkan diskriminasi yang sistematis.  

TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found