DUNIA

Heboh WikiLeaks, Indonesia Protes ke AS

Dubes AS menyatakan bahwa laporan diplomatik yang di kirim ke Washington masih mentah.

ddd
Jum'at, 11 Maret 2011, 11:52 Renne R.A Kawilarang, Denny Armandhanu
Halaman muka The Age tentang Presiden SBY
Halaman muka The Age tentang Presiden SBY (The Age)

VIVAnews - Indonesia menyampaikan protes keras kepada Amerika Serikat (AS) atas laporan diplomatik rahasia Washington yang dibocorkan WikiLeaks, yang mendiskreditkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan para pejabat lain. Sedangkan perwakilan pemerintah AS menyatakan bahwa bocoran WikiLeaks yang dimuat media Australia sama sekali tidak berdasar.

Protes itu disampaikan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa kepada Duta Besar AS, Scot Marciel, di Kementrian Luar Negeri Jakarta, Jumat 11 Maret 2011.

"Indonesia menyampaikan protes keras ke pemerintah Amerika Serikat atas laporan WikiLeaks yang dimuat surat kabar Sydney Morning Herald dan The Age," kata Natalegawa.

"Kami tidak saja menyampaikan protes keras tapi minta penjelasan dan klarifikasi mengenai laporan yang dimaksud. Diharapkan AS menyampaikan penyesalan mengenai hal ini," lanjut Natalegawa.

Laman pembocor spesialis rahasia diplomatik, WikiLeaks, kembali menampilkan informasi yang menyinggung Indonesia. Kali ini, informasi itu menyinggung bahwa Yudhoyono terlibat dalam praktek korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, sehingga merusak reputasinya sebagai tokoh yang bersih dan reformis.

Bocoran WikiLeaks itu diklaim oleh suatu surat kabar Australia, The Age. Dalam edisi Jumat, 11 Maret 2011, koran itu menampilkan judul yang besar pada halam depan, "Yudhoyono 'Abused Power': Cables accuse Indonesian President of corruption." Berita serupa juga dimuat harian Sydney Morning Herald.

Sejumlah pejabat dan mantan pejabat Indonesia pun turut disinggung, diantaranya mantan Wapres Jusuf Kalla, Ketua MPR Taufiq Kiemas, hingga Ibu Negara Ani Yudhoyono. Kedubes AS pun menyebut penasihat presiden, TB Silalahi, sebagai salah satu informan berharga.

Menurut Natalegawa, Indonesia telah menyampaikan pandangan dan sikapnya mengenai informasi tersebut. "Informasi itu sama sekali tidak berdasar dan tidak mengandung kebenaran sedikit pun, bahkan tidak masuk akal," kata Natalegawa usai pertemuan dengan Dubes Marciel.

Menurut Natalegawa, hal-hal yang dilaporkan di artikel itu bukan saja tidak berdasarkan fakta tapi juga bertolak belakang dengan keadaan Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir. "Dalam masa itu, Indonesia berhasil memajukan demokrasi, memberantas korupsi dan menegakkan Good Governance, kata Natalegawa.
 
Sikap AS

Scot Marciel memahami protes yang disampaikan pemerintah Indonesia kepada AS dan menyampaikan keprihatinannya. "Saya ingin menyampaikan keprihatinan yang mendalam kepada Presiden Yudhoyono dan seluruh rakyat Indonesia," kata Marciel dalam jumpa pers bersama Natalegawa.

Namun, Marciel tidak berkomentar atas kebenaran isu-isu WikiLeaks itu. Dia hanya menyatakan kabar yang beredar di media massa yang diklaim sebagai bocoran WikiLeaks itu tidak menggambarkan kebijakan-kebijakan dan dan keputusan akhir kebijakan Amerika Serikat. 

"Dokumen tersebut tidak mewakili sikap AS. WikiLeaks sangat tidak bertanggungjawab atas hal ini," kata Marciel.

Dia menyatakan bahwa laporan-laporan diplomatik yang dikirim kedutaan kepada pemerintah pusat di Washington pada dasarnya bersifat informasi ada padanya (candid), masih mentah, dan tidak lengkap.


© VIVA.co.id   |   Share :  
Rating
KOMENTAR
bambang
04/04/2011
Kalau memang benar kenapa harus marah dan protes
Balas   • Laporkan
jemz123
11/03/2011
usir aja dubesnya! gitu aja kok repot...
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com
Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Lowongan
Copyright © 2013 PT. VIVA Media Baru