DUNIA

Larangan Diabaikan, Demo di Mesir Berlanjut

Jumlah korban tewas dalam kerusuhan di Mesir dua hari terakhir menjadi enam orang.

ddd
Kamis, 27 Januari 2011, 09:25 Renne R.A Kawilarang, Denny Armandhanu

VIVAnews - Larangan pemerintah Mesir agar rakyat tidak lagi berdemonstrasi besar-besaran seperti Selasa kemarin sepertinya tidak digubris. Mereka tetap saja berdemonstrasi, Rabu 26 Januari 2011, menuntut mundurnya rezim presiden Hosni Mubarak, yang telah berkuasa selama 30 tahun.

Akibatnya, bentrokan kembali terjadi antara pengunjuk rasa dan pasukan keamanan di beberapa kota Mesir. Dilaporkan, seorang pengunjuk rasa dan seorang polisi keamanan tewas pada Rabu, 26 Januari 2011. Menurut kantor berita Associated Press, jumlah korban tewas dalam dua hari terakhir menjadi enam orang.

Pasukan keamanan di Kairo terpaksa menyerang dengan tembakan gas air mata dan pentungan karena para pengunjuk rasa dinilai telah melanggar larangan berkumpul di jalan. Sesuai perintah dari Kementerian Dalam Negeri, pasukan keamanan tidak lagi toleran sedikitpun kepada gerombolan orang yang hendak berunjuk rasa.

Lebih dari 2.000 pasukan keamanan membuat beberapa pos di kota Kairo dan di sepanjang jembatan sungai Nil. Pasukan juga ditempatkan di luar beberapa fasilitas rawan, diantaranya adalah stasiun TV dan markas partai Presiden Mesir Hosni Mobarak, Partai Demokrasi Nasional.

Selain yang mengenakan pakaian tempur lengkap dengan tameng, pasukan keamanan juga disebar diantara para pengunjuk rasa. Mereka mengenakan pakaian preman untuk memperoleh informasi dengan berbaur dengan para pengunjuk rasa. Polisi berpakaian preman juga bertugas untuk menangkapi para provokator yang melempari polisi dengan batu.

Total korban tewas hingga Rabu mencapai enam orang. Dua korban terakhir tewas setelah diterjang sebuah mobil yang menerobos kerumunan polisi dan pengunjuk rasa pada Rabu di pusat kota Kairo. Sebelumnya pada Selasa, tiga orang pengunjuk rasa tewas di kota Suez dan seorang polisi terbunuh di Kairo.

“Kerusuhan ini adalah lampu merah bagi rezim Mubarak, ini adalah peringatan,” ujar salah seorang pengunjuk rasa, Abdel-Motalib.

Kerusuhan terus berlangsung hingga malam di beberapa kota di Mesir. Stasiun TV Mesir, Nile News, seperti dilansir dari stasiun berita CNN, melaporkan bahwa 27 orang terluka di timur kota Kairo, tepatnya di dekat teluk Suez. Kebanyakan dari mereka adalah polisi keamanan.

Kelompok Persaudaraan Muslim mengatakan 35 orang terluka di Suez. Menurut laporan Komite Perlindungan Jurnalis, sedikitnya 10 orang wartawan turu menjadi korban pentungan polisi keamanan.

Aksi Selasa kemarin merupakan demonstrasi terbesar di Mesir dalam beberapa tahun terakhir sebagai bentuk kemarahan masyarakat terhadap rezim otoriter Presiden Hosni Mubarak karena tidak mampu mengatasi krisis naiknya harga kebutuhan pokok dan tingginya pengangguran. 

Para demonstran juga menginginkan agar parlemen mengesahkan undang-undang baru agar seorang presiden tidak boleh memimpin lebih dari dua periode berturut-turut. Selain itu, para demonstran juga mendesak Menteri Dalam Negeri Habib al-Adly segera mundur dari jabatannya.



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com