DUNIA

100 Korban Pelecehan Seks Mengadu ke Paus

Para pengadu berasal dari Italia, Inggris, AS, Irlandia, Belanda dan Australia.

ddd
Senin, 1 November 2010, 16:13 Renne R.A Kawilarang, Denny Armandhanu
Paus Benedict XVI Memimpin Misa Natal 2008
Paus Benedict XVI Memimpin Misa Natal 2008 (AP Photo)

VIVAnews - Sekitar seratus orang, yang mengaku sebagai korban pelecehan seksual rohaniwan Katolik dari sejumlah negara, mendatangi Tahta Suci Vatikan untuk mengadu kepada Paus Benediktus XVI, Minggu waktu setempat, 31 Oktober 2010. Namun, usaha mereka dihalangi oleh polisi Italia, yang melarang mereka mencapai Lapangan St. Peter, Vatikan.

Menurut kantor berita Associated Press, para pengadu berasal dari Italia, Inggris, Amerika Serikat, Irlandia, Belanda, dan Australia. Mereka melakukan aksi menyalakan lilin, yang merupakan bentuk simpati terhadap apa yang menurut mereka juga terjadi kepada sejumlah korban lain di berbagai negara.

Kebanyakan dari mereka mengenakan kaus bertuliskan bahasa Jerman, Italia dan Inggris yang berarti: “Cukup!” dan membawa poster bertuliskan "Jauhi anak-anak!"

Pemimpin rombongan tersebut, Gary Bergeron, mengatakan mereka akan terus menyuarakan aspirasi anak-anak yang menjadi korban pelecehan sejumlah pastor sampai Tahta Suci mengambil tindakan nyata. “Hari ini, bisikan yang dulu tidak terdengar kini mulai terdengar,” ujar Bergeron seperti dilansir AP.

Di antara kelompok tersebut terdapat 55 penderita tuli dari sebuah Institusi Katolik di Verona, Italia. Mereka juga mengaku jadi korban pelecehan seks.

Para demonstran sempat dilarang untuk mendekati wilayah Vatikan setelah muncul penolakan dari otoritas negara terkecil di dunia tersebut. Ini adalah hal biasa mengingat Vatikan tidak akan menyetujui acara yang tidak langsung diselenggarakan Tahta Suci.

Namun, atas seizin Juru Bicara Vatikan, Federico Lombardi, sejumlah perwakilan demonstran diperbolehkan mengirim surat secara langsung kepada Paus. Bergeron bersama seorang lainnya membawa lilin besar dan berjalan menuju istana Vatikan. Mereka menaruh surat yang disegel tersebut di tangga istana.

Perwakilan demonstran ini juga menaruh dan menyusun puluhan batu, persis seperti tanda penunjuk jalan di pegunungan. Batu-batu ini merupakan jalur simbolik kepada para korban bahwa mereka tidak sendiri.

“Perjalanan para korban maju selangkah demi selangkah. Hari ini sangat berarti bagi para korban. Ini pertama kalinya kelompok besar korban datang bersama dan menyatakan suara mereka di Italia,” ujar Bergeron.

Hingga berita ini diunggah, belum ada tanggapan dari Vatikan mengenai aksi ini. (kd)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
melvin
02/11/2010
konsernya adalah usaha vatikan untuk menutup2i tindakan kriminal itu sendiri...
Balas   • Laporkan
silas
02/11/2010
wong bingungan. Yang menyatakan ada keselamatan diluar gereja adalah kita sendiri pada konsili vatikan 2.
Balas   • Laporkan
wong edan
02/11/2010
terjadi pelecehan sex karena satu sama lain tidak saling menyukai hehe
Balas   • Laporkan
ngantuk
01/11/2010
@timanganberk,@silas & @viva02 kalian menuding org lain serta menganggap berita diatas sesuatu yg bodoh,ini sama sj dgn mengecilkan penderitaan saudara-i seiman kalian sendiri yg menjadi korban,pelecehan gk ada hubungannya dgn agama ini soal kriminal.
Balas   • Laporkan
Di agama lain, juga banyak pelecehan oleh pemuka agama dan jauh lebih sulit untuk menyuarakan hal tersebut. Kasus Zainudin MZ contohnya :-)
Balas   • Laporkan
ngantuk | 01/11/2010 | Laporkan
Sdh liat acara khusus CNN
silas
01/11/2010
masih banyak keselamatan diluar gereja.
Balas   • Laporkan
silas | 02/11/2010 | Laporkan
wah jarang ke gereja ni orang...
timbanganberkarat | 01/11/2010 | Laporkan
Yup komen yang bodoh. Dia lupa di agama lain, juga banyak pelecehan oleh pemuka agama dan jauh lebih sulit untuk menyuarakan hal tersebut. Kasus Zainudin contohnya :-)
viva02 | 01/11/2010 | Laporkan
Contoh komen yang bodoh.


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com